Jumat, 22 Agustus 2008

Buku "30 Konsep Penting Pembangunan Pedesaan dan Pertanian"

Advokasi

Pada mulanya, istilah “advokasi” merupakan salah satu aktifitas khas dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non Government Organization (NGO). Pada perkembangannya kemudian, advokasi juga dilakukan oleh kalangan lain di luar LSM, misalnya perguruan tinggi dan kesatuan-kesatuan masyarakat lokal.

Advokasi adalah “…..a strategy that is used around the world by non-governmental organizations (NGOs), activists, and even policy makers themselves, to influence policies”. Pada prinsipnya, advokasi adalah suatu proses yang bersifat strategis dan mengarahkan berbagai kegiatan yang dirancang dengan cermat kepada berbagai kelompok kepentingan (stakeholders) dan pembuat kebijakan. Perjuangan advokasi diarahkan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan kebijakan baik berupa undang-undang, peraturan, program, ataupun sistem anggaran yang merupakan wewenang di tingkat tertinggi berbagai institusi pemerintah, publik, maupun swasta. Pemerintah merupakan institusi yang paling sering dituju dalam suatu advokasi, karena ia merupakan lembaga tertinggi dan sekaligus memiliki kekuasaan terkuat secara ekonomi dan politik.

Makna paling pokok dari advokasi adalah “pembelaan”. Jika kita telusuri melalui kamus, akan ditemukan bahwa “advocacy” adalah sebuah kata benda yang identik dengan ......... dan seterusnya

Agraria

Agraria merupakan salah satu konsep yang penting dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Namu demikian, konsep ini masih diliputi oleh berbagai ketidaksepahaman di antara para ahlinya. Ketidaksepahaman tersebut sedikit banyak menyumbang pula kepada terhambatnya implementasi konsep tersebut.

Secara etimologi, agraria berasal dari bahasa Latin “ager” yang berarti (a) lapangan (b) pedusunan, sebagai lawan dari perkotaan, dan (c) wilayah; tanah negara. Kata lain yang dekat adalah “agger”, yang artinya adalah (a) tanggul penahan/pelindung, (b) pematang, (c) tanggul sungai, (d) jalan tambak, (e) reruntuhan tanah, dan (f) bukit. Dari pengertian ini, tampak bahwa yang dicakup oleh istilah agraria bukanlah sekedar “tanah” atau “pertanian” saja. Kata-kata “pedusunan”, “bukit” dan “wilayah’ jelas menunjukkan arti yang lebih luas, karena di dalamnya tercakup segala sesuatu yang terwadahi olehnya. Di “pedusunan” terdapat berbagai macam tumbuhan, air, sungai, mungkin juga tambang, perumahan, dan masyarakat manusia .

Pengertian ini sesungguhnya sudah berupaya diadopsi dalam produk-produk hukum di Indonesia, walaupun sebagian besar orang beranggapan bahwa agraria hanya berkaitan dengan masalah “tanah”. Dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 tahun 1960 pasal 1 ayat 2, ........... dan seterusnya

Agribisnis

Makna secara harfiah “agribisnis” adalah ketika bertani sudah dipandang sebagai sebuah kegiatan bisnis, tidak lagi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Lawannya adalah bertani sebagai subsisten. Dalam filosofi agribisnis, usaha pertanian perlu dijalankan sebagai mana layaknya sebuah aktifitas bisnis. Dua kata kuncinya adalah: untung dan efisien. Cara berpikir bisnis menjadi mutlak, ketika berbagai aktifitas yang esensial yang berkaitan dengan pertanian sudah dilakukan secara terpisah dan jauh dari sawah dan ladang (farm). Artinya, jika tidak mau menggunakan prinsip-prinsip bisnis, maka usaha pertanian apapun akan bangkrut.

Pengertian yang paling ringkas tentang “agribisnis” adalah “agriculture regarded as a bussiness”. Agribisnis mencakup seluruh aktifitas mencakup produksi, penyimpanan (storage), distribnusi, dan processing bahan dasar dari usahatani; serta suplai input dan penyediaan pelayanan penyuluhan, penelitian, dan kebijakan lain. Agribisnis telah menjadi bagian dari bentuk ekonomi modern, ketika aktifitas pertanian tidak lagi semata-mata hanya usahatani (farming). Banyak aktifitas terpisah dari usahatani yang menjadi faktor penentu pengembangan sebuah kegiatan pertanian. Pertanian membutuhkan pupuk yang diproduksi oleh pihak lain di tempat lain, demikian juga dengan produksi benih, kegitaan prosesing, pergudangan, dan distribusi. Adopsi teknologi dan perkembangan tatanan masyarakat, telah menyebabkan usahatani menjadi semakin terspesialisasi dan businesslike. Agribisnis mencakup bisnis banyak bidang, mulai dari usahatani, penyediaan benih, kimia (agrichemicals), mesin pertanian, perdagangan, processing, marketing, and perdagangan seceran (retail sales).

Sebagai sebuah aktifitas bisnis, maka skala menjadi penting. Karena itu kita mengenal pula salah satu definisi yang menyatakan agribisnis adalah “Farming .......... dan seterusnya

Analisa SWOT

SWOT merupakan kependekan dari empat faktor yang menjadi objek perhatian, yaitu dua faktor internal dan dua faktor eksternal. Faktor-faktor internal adalah strength (kekuatan) dan weakness (kelemahan), sedangkan dua faktor eksternal adalah opportunity (kesempatan) dan threat (ancaman). Strength dan opportunity merupakan faktor-faktor positif, sedangkan weakness dan threat adalah faktor-faktor negatif. Keempatnya digunakan untuk mengkaji suatu sistem sosial, misalnya suatu organisasi atau suatu program.

Analisa SWOT berguna ntuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi program ke depan. Alat yang biasa dipakai adalah matriks SWOT, yang menggambarkan bagaimana menggabungkan antara faktor internal dan eksternal, sehingga menghasilkan empat bentuk strategi sebagai berikut: ..... dan seterusnya

Capacity-Building

Istilah “capacity-building” sampai saat ini masih digunakan dalam bentuk aslinya, sedangkan terjemahannya berupa “peningkatan kapasitas” misalnya belum populer dipakai. Pada pokoknya, capacity-building adalah satu strategi yang dapat dipraktekkan dalam pembangunan.

Sebagaiman konsep pembangunan, capacity-building fokus kepada permasalahan hubungan-hubungan sosial dan politik. Karena itu, ia tidak dapat dipandang sebagai terisolasi dari lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Dari sisi level, maka ia akan mencakup pemerintah, pasar, sektor swasta, NGO, serta komunitas, rumah tangga, dan individual.

Dalam konteks capacity-building sebagai sebuah pendekatan dalam pembangunan, akan melibatkan identifikasi berbagai kendala dalam pembangunan. Pembangunan pada pokoknya adalah bagaimana agar dicapai perubahan positif dalam hidup, kemajuan personal bersama-sama dengan public action, dan bagaimana proses dan hasil terhaap kemiskinan, oppression, diskriminasi, dan merealisasikan potensi manusia melalui keadilan sosial dan ekonomi.

Jadi, capacity-building adalah sebuha bentuk respon menuju proses yang multi dimensi, tak semata-mata intevensi teknik. ..... dan seterusnya

Civil Society

Istilah “civil society” di Indonesia diterjemahkan menjadi beberapa kata dengan sedikit perbedaan antar kata tersebut, yaitu “masyarakat sipil”, masyarakat warga”, “masyarakat kewargaan” atau “masyarakat madani”. Konsep in mendapat banyak perhatian, dan tampak sedang pada tahap berkembang. Tiap orang menambahi lagi dengan indikatro-indikator baru, sehingga kadangkala ada ketidaksamaan di antara mereka.

Terjadi perubahan yang sangat ekstrim terhadap makna konsep civil society ini. Konsep yang belaku sekarang berbeda dengan konsep murninya (genuine). CS awalnya oleh Cicero, seorang filsuf Yunani, yang menyampaikan dalam konteks filsafat politik dengan istilah “societies civilis”. Saat itu, CS identik dengan negara.
Pada awalnya, abad 18, yang disebut dengan civil society adalah negara. Jadi, awalnya CS berbentuk sekularisme, yaitu penentangan ilmuwan terhadap kekuasaan gereja yang absolut di abad pertengahan. Namun akhir abad 18, CS merupakan komponen penting yang keberadaannya seajar dengan negara, seiring dengan Hegelian yang membagi dunia sosial atas 3 komponen, yaitu: keluarga, civil society, dan negara. Dalam konsep Hegel tersebut, CS memiliki ketergantungan kepada negara. Namun kini, menjadi “kemandirian aktifitas warga masyarakat berhdapan dengan negara. Dengan terwujudnya nilai-nilai keadilan, persamaan, pluralisme, dan kebebasan.

Konsep CS modern juga berasal dari Barat, meskipun ada kesamaan konsep antara ide demokrasi, SC Modern, dengan Filosof Politik Al-Farabi (Buku Al-Siydsah al-Madaniyyah) Di Masyarakat Islam, masyarakat Madani ada sejak abad ke –13 dengan terbentuknya masyarakat Islam dan adanya lembaga keulamaan. DI Indonesia adalah dengan berdirinya Syarekat Isalam dan Muhamadiyah tahun 1912. DI kalangan Islam, masyarakat madani punya empat definisi yang selalu tepat, yaitu: identik dengan masyarakat Madinah semasa nabi, sama dengan peran nabi sebagai kepala negara, identik dengan kelas menengah muslim kota, dan masyarakat yang beradab.

Istilah "madani" berasal dari Madaniyyah yang bermakna “peradaban”, sementara civil dari civility yang juga “peradaban”. Kata civilis atau civis dalam bahasa Yunani sama dengan kewargaan. Namun Madani dalam bahasa Arab adalah kata sifat dari Madinah sebagai kota secara umum, atau peradaban.

Dengan alasan itu, maka ada yang mengelompokkan pandangan terhadap CS atas kaum tradisionalis dan modernis. Kaum tradisionalis mendefinikan CS sebagai masyarakat sipil, yaitu CS yang berasal dari budaya Barat, sebagai counter balancing terhadap negara, sebagai alat kontrol negara, oppsote terhadap negara. Arena negara ...... dan seterusnya, hubungi syahyuti@yahoo.com)